jump to navigation

Pelatihan Spiritualitas Perdamaian 17 April, 2009

Posted by dutadamai in pelatihan.
add a comment

PSPP UKDW. Pelatihan Spiritualitas Perdamaian yang diselenggarakan Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta telah usai. Tepatnya tanggal 19 – 21 Januari 2009 di Wisma GHCC Duta Wacana Kaliurang pelatihan itu berlangsung dengan jumlah peserta 22 orang dari berbagai lembaga pengutus, diantaranya AFSC Yogyakarta, Rumah Perempuan Yogyakarta, Komisi Hukum dan Advokasi GMIT Kupang, KKP Keuskupan Kupang, AFSC Kupang, BPMK GKI Klasis Bandung, CIS Timor, dll.

Dibawah ini adalah komentar para peserta dalam Pelatihan Spiritualitas Perdamaian Tahun 2009:

Nama: Nama: Topson Siagaan,

dari BPMK GKI Klasis Bandung, Jl. Kebonjati 100 Bandung


Setelah mengikuti pelatihan ini saya (Pak Topson) lebih memahami makna spiritualitas dan nilai perdamaian serta menginspirasikan untuk bertindak/berbuat lebih jauh dalam menaburkan nilai-nilai perdamaian. Selain itu juga lebih jelas akan makna panggilan.
Tentang makna JOURNALING, banyak kisah dan pengalaman spiritualitas saya yang hilang karena tidak terbiasa dengan journaling.

Nama : Selvister Ndaparoka

dari American Friends Service Commite (AFSC)

Jl. Krasak 3 Kota Baru Yogyakarta

Mendapat Pencerahaan dari fasilitator mengenai spiritualitas perdamaian dan dapat berbagi pengalaman dengan teman-teman lain. Saya juga mengenal teman-teman baru yang kedepan bisa saja menjadi sahabat network. Untuk Panitia yang selalu ramah dipertahankan.


Komentar salah satu peserta pelatihan :

Adakah spiritualitas perdamaian?

Kalau iya, seperti apakah itu?

Bagaimana penerapan dan penyebarannya?

Itulah beberapa pertanyaan yang melintas di kepala saya ketika mendapat undangan untuk mengikuti training spiritualitas perdamaian. Tentang spiritualitas sendiri, saya masih merasa “gelap”, apakah sebetulnya spiritualitas?

Hari pertama:

Pembukaan acara dilakukan dengan sebuah “ritual” ala Jawa. Ada kembang-kembang dalam dua buah vas bunga, ada beberapa helai selendang khas dari beberapa daerah di Nusantara, kain tenun dari flores dan batak, beberapa kain khas Yogya yang sering digunakan sebagai ikat kepala, juga ada makanan tradisional khas Jawa (Yogya/Kaliurang); jadah tempe, juga beberapa jenis buah-buahan seperti salak, pisang dan kacang. Bau wangi dupa menyapa indra penciuman, asap dupa yang dibakar di sekeliling pendopo tersapu semilir angin pagi Kaliurang, menyambut hilangnya kabut.

Ketika kami berkumpul dan berkenalan antar peserta yang jumlahnya sekitar 22 orang dengan latar belakang agama daerah dan kesukuan yang beragam, menjelang ritual tersebut, bayangan yang muncul dalam benak saya adalah sebuah ritual “kejawen”, melakukan do’a, kemudian memberikan “barang sesembahan” tersebut kepada “arwah-arwah” para leluhur dan kepada “Yang Maha Kuasa”.

Namun, bayangan saya perlahan-lahan memudar ketika fasilitator, Bapak Mahatmanto, membawa kami pada pengenalan barang-barang yang dihadirkan pada pembukaan acara training spiritualitas perdamaian ini.

Pak Anto, demikian panggilannya, mengatakan bahwa makanan kecil berupa jadah-tempe adalah sebuah symbol, bagi masyarakat Jawa, khususnya Kaliurang, mengenai kosmos (bumi atau alam ini). Bahwa jadah yang terbuat dari beras putih, ada juga beras merah, serta tempe, merupakan hasil bumi. Ketika kita memakannya, itu adalah ungkapan syukur terhadap bumi, ungkapan syukur terhadap sang pencipta bumi dan kita manusia, seketika kita melakukan penyatuan dengan sang pencipta.

Sementara kain tenun yang diambil dari berbagai suku yang ada di Nusantara merupakan perlambang bahwa kita memiliki kekayaan berupa perbedaan, keragaman (diversity) yang memberi warna-warni sehingga menampakkan keindahan. Kain-kain tersebut kemudian dikalungkan kepada beberapa orang diantara kami. Pengalungan itu merupakan bentuk pengenalan dan persatuan diantara kami yang berbeda. Ketika kita bersatu dalam keragaman itu, dalam damai, dalam harmoni, betapa cantik dan indahnya kita.

“Ritual” berlanjut dengan perjalanan menuju ruang pertemuan dengan cara berjalan “hening”. Kami berbaris dan berjalan dalam diam, dipayungi kain selendang panjang, dan hanya dipandu dengan bunyi lonceng kecil serta taburan bunga yang disebarkan oleh beberapa orang yang berada di depan kami, mereka yang mengenakan busana hitam putih.

Pak Anto mengatakan, bahwa hitam-putih, sebagaimana adanya laki-laki dan wanita, bersih dan kotor, timur dan barat, merupakan oposisi biner yang sebetulnya merupakan penanda dari kehidupan ini, sebagai faktor penggerak dinamika kehidupan.

Selesai dengan ritual itu, dan kami sampai ke ruang pertemuan kami bertukar fikiran tentang apa yang terjadi dengan ritual pembukaan acara itu. Ada banyak ide, gagasan, pendapat dan suara.

Beberapa suara yang saya tangkap dari peserta adalah bahwa kita sering kali dan memang tidak bisa melepaskan diri dari apa yang namanya symbol. Dalam hal apapun kita selalu membutuhkan dan menggunakan symbol apakah dalam beragama, dalam berhubungan secara horizontal dengan sesama maupun vertical dengan Yang Maha Kuasa, dalam berpolitik, kita selalu bersinggungan dengan symbol. Manusia adalah makhluk”symbol” (human symbolicum), saya temukan pembenarannya dari refleksi ritual ini.

Ada pula yang mengatakan, dengan ritual itu, dirinya merasa terbawa pada suatu masa, dimana dia pernah sangat dekat dengan budaya itu, masa kanak-kanak, pada kampung halamannya, pada kedua orang tuanya, dan pada siapa dirinya dan dari mana asalnya. Saya mencatat bahwa ritual itu juga mengingatkan kita pada identitas diri kami, upaya pengenalan terhadap diri kami dan Sang Pencipta. Sebuah firman Allah SWT, yang terjemahannya kira-kira “Siapa yang ingin mengenal-KU, maka kenalilah dirimu”.

Sebuah bentuk penyadaran kami dapatkan dari ritual tersebut. Namun pertanyaan yang membayang selanjutnya adalah kenapa sering kali kita terjebak pada symbol dan ritual yang nampak tanpa ada upaya refleksi dan pemaknaan terhadapnya.

Kaliurang, Januari 2009.